Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Saturday, September 06, 2008

Satu Tiket ke Surga

Siang itu nampak seperti siang yang biasanya dalam hidup saya. Siang yang selalu sama, yang selalu penuh dengan segala macam rutinitas. Namun saat itu rutinitas ibadah sedang naik daun atau sedang sangat dominan. Dominan? Ibadah? bukankah hidup adalah ibadah? Pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya ini tentu menjadi pernyataan yang menganulir kalimat "Rutinitas Ibadah sedang sangat dominan". Betul bukan? Mungkin perasaan dominan ini muncul akibat saat ini kita sedang menginjak bulan penuh berkah, bulan Ramadhan. Bulan dimana semua ibadah akan ditingkatkan berkali lipat pahalanya oleh Tuhan semesta Alam, Allah SWT.

Namun di hari ketiga puasa itu ternyata bukanlah hari yang biasa bagi saya atau bagi beberapa teman lainnya. Hari itu sudah direncanakan oleh Allah 'azza wa jalla untuk dijadikan sebagai hari istimewa untuk saya. Di hari tersebut saya mendapatkan satu tiket ke surga. Masya Allah. Hal yang diimpikan oleh semua orang di dunia ini, datang menghampiri saya begitu saja, tentunya semua itu terjadi atas Izin-Nya. Tetapi mungkin pernyataan saya tadi agak berlebihan karena tiket yang dimaksud tadi adalah sebuah buku. Buku yang berjudul "Satu Tiket ke Surga". Judul yang saya pikir sarat akan makna. Empat kata yang memiliki kedalaman arti. Hal ini dikarenakan selain sebagai sebuah judul buku, disana juga tersirat satu rahasia menuju surga. Tiket yang menurut saya bisa diartikan sebagai Al-Qur'an yang pada dasarnya jika manusia mempelajari dan mengamalkan isi Al-Qur'an maka mereka akan mendapatkan Tiket menuju Surga. Insya Allah.

Sejak saya diizinkan oleh Allah untuk merasakan lagi nikmatnya bulan Ramadhan, saya sudah banyak diberi rizki melimpah oleh Allah. Baik itu rezeki materi, rezeki kesehatan, dan juga rezeki kemudahan dalam menunaikan segala urusan. Subhanallah wal Alhamdulillah. Allah memang satu-satunya tempat berlindung dan tempat memohon pertolongan. Dan buku "satu tiket ke Surga" ini merupakan hadiah darinya yang diantarkan oleh sahabat baik saya. Sebuah tugas mengantar yang tak mudah dan mudah-mudahan segala amalnya diterima di sisi Allah SWT. Amin.

Pada awalnya saya tak merasa ada yang istimewa dalam buku ini. Walaupun saya adalah pecinta buku namun saya agak ragu untuk segera membaca buku ini dalam waktu yang dekat.Tetapi, entah ada perasaan apa-mungkin perasaan istimewa karena ini adalah hadiah dari sahabat- buku ini segera menggeser banyak buku yang sudah mengantri dalam daftar baca saya. Sebuah pergeseran yang saya anggap tepat karena saya betul-betul dapat merasakan dahsyatnya buku ini. Buku pun saya lahap dengan sangat cepat bahkan menembus rekor waktu membaca saya. Hanya dalam waktu kurang lebih 4 jam saja saya segera meng-khatam-kannya. Sebuah rekor bagi saya.

Buku karangan Zabrina A Bakar ini begitu sederhana tapi sarat makna.Begitu kecil namun memiliki pelajaran yang besar. Penjelasannya sangat lugas dan menceritakan sudut pandang lain dari sebuah masalah. Perubahan Paradigma Berpikir. Sis zabrina merupakan motivator ulung, inspirator handal, dan juga penulis berbakat serta muslimah yang baik. Beliau mampu berinteraksi dengan baik dengan para pembacanya lewat buku. sebuah terobosan yang mutakhir menurut saya. subhanallah.

Satu Tiket ke Surga berisi tentang pelajaran-pelajaran hidup yang berlandaskan Islam. Dalam buku ini pun sis Zabrina dapat dengan sangat baik mengutip isi Al-Qur'an dan Al-Hadist dan menyambungkannya dengan segala macam permasalahan dunia beserta solusinya. Dan beliau pun dengan sangat cerdik membagi-baginya dengan membeberkan rahasia-rahasia menuju surga. Rahasia-rahasia yang menurut saya harus dipahami dan diamalkan oleh semua muslim.

Membaca buku ini bagaikan seperti melihat langsung perilaku diri. Menyaksikan langsung segala kesalahan-kesalahan diri dari cerita-cerita yang sangat bagus dan luar biasa. Membaca rahasia pertama saja saya langsung meneteskan air mata. Menangis. Bukan menangis yang biasa tetapi menangis sekencang-kencangnya. Sampai saat ini saya tidak tahu berapa kali saya menangis saat membaca buku ini. Namun dari 19 Rahasia yang dibeberkan oleh sis Zabrina, di setiap itu pula saya menitikkan air mata. sebuah buku yang luar biasa. Sederhana namun kuat pengaruhnya. Al-qur'an yang menjadi pedoman utama dibeberkan sebagian dalam buku ini seakan memenuhi pikiran saya. Bukan sekedar memenuhi tetapi juga memberi dorongan dan motivasi bagi saya untuk beribadah kepada Allah. Itu baru sebagian kecil, bagaimana ya rasanya jadi seorang penghafal Al-Qur'an dan pengamalnya? Mungkin tiket menuju surga sudah dia dapatkan. Insya Allah.

Buku ini sangat dahsat. Saya rekomendasikan untuk anda baca atau sebagai hadiah bagi orang yang anda kasihi. Saya sangat berterima kasih sekali kepada saudara saya yang telah berkorban materi dan tenaga untuk mengantarkan pesan dari Allah untuk saya. Semoga Allah membalas segala kebaikanmu. dan semoga kita bertemu di Jannah-Nya Kelak. Amin. semoga kita bisa saling nasehat-menasehati dalam kebaikan.

Tak perlu berpikir lagi. segera bertindak, Baca Al-Qur'an dan amalkan segala isinya. Ini sebuah pesan dan nasihat untuk anda dan khusus untuk saya sendiri karena perkataan haruslah bersamaan dengan perbuatan. Dan kalau anda punya rezeki, belilah buku ini. saya jamin anda akan terpesona. Insya Allah.


~saya rekomendasikan ketika membaca buku ini anda juga mendengarkan musik dari Kitaro yang berjudul Koi. Akan membantu meresapi isi buku ini.
~Sehabis membaca buku ini, saya pun langsung berinteraksi dengan penulisnya di salah satu situs Jejaring Sosial. Dengan sangat cepat dia menerima saya sebagai daftar temannya. Dengan sangat cepat pula dia membalas komentar saya. Berikut balasan komentar dia:

Salaam Brother Franova,

JazakAllaah khayran for your prayers. Ameen to it too and i pray the same for you. Please continue praying that Allaah continue to shower me with ideas to write about, words that could heal our souls and of course, guidance in our lives. Ramadhan Mubarak to you! Salaams, Sis Zabrina
Oia, beliau juga adalah seorang Blogger. Blognya dapat dikunjungi di sini

Tuesday, June 17, 2008

Beberapa Cara Mendekatkan Diri Kepada Allah


  1. Sholat wajib tepat waktu, selalu berdoa dan berdzikir kepada Allah
    Dengan sholat, berdo'a dan dzikir kepada Allah, Inya Allah hati menjadi tenang, damai dan makin dekat dengan-Nya
  2. Sholat tahajud
    Dengan sholat tahajud Insya Allah cenderung mendapatkan perasaan tenang. Hal ini dimungkinkan karena di tengah kesunyian malam didapatkan kondisi keheningan dan ketenangan suasana,yang tentu saja semua itu hanya dapat terjadi atas izin-Nya. Pada malam hari, diri ini tidak lagi disibukkan dengan urusan pekerjaan ataupun urusan-urusan duniawi lainnya sehingga dapat lebih khusyu saat menghadap kepada-Nya.
  3. Mengingat kematian yang dapat datang setiap saat
    Kematian sebenarnya sangat dekat, lebih dekat dari urat leher kita. Dan dapat secepat kilat menjemput.
  4. Membayangkan tidur di dalam kubur.
    Membayangkan tidur dalam kuburan yang sempit , gelap dan sunyi saat kita mati nanti. Semoga amal ibadah kita selama di dunia ini dapat menemani kita di alam kubur nanti.
  5. Membayangkan kedahsyatan siksa neraka.
    Azab Allah sangat pedih bagi yang tidak menjauhi larangan-Nya dan tidak mengikuti perintah-Nya. Ya Allah jauhkanlah kami dari siksa neraka-Mu, karena kami sangat takut akan siksa neraka-Mu.Ya Allah bimbinglah kami agar dapat memanfaatkan sisa hidup kami untuk selalu dijalan-Mu.……
  6. Mengikuti tausyiah atau mengikuti pengajian secara rutin seminggu satu kali (minimal), dua kali atau lebih. Insya Allah... dengan mendengar tausyiah atau mengikuti pengajian, akan meningkatkan keimanan karena selalu diingatkan kembali utk selalu dekat kpd Allah SWT. Perlu dicatat, dikarenakan iman bisa turun atau naik, maka harus dijaga agar iman tetap stabil pada keadaan tinggi/ kuat dengan mengikuti tausyiah, pengajian dsb.
  7. Bergaul dengan orang-orang sholeh.
    Seperti sudah dijelaskan di atas bahwa tingkat keimanan kita bisa turun atau naik, untuk itu perlu dijaga agar tingkat keimanan kita tetap tinggi. Berada pada lingkungan kondusif dimana orang-orangnya dekat dengan Allah SWT, Insya Allah juga akan membawa kita untuk makin dekat kepada-Nya.
  8. Membaca Al Qur'an dan maknanya (arti dari setiap ayat yang dibaca)
    Insya Allah dengan membaca Al Qur'an dan maknanya, akan menjadikan kita makin dekat dengan-Nya.
  9. Menambah pengetahuan keislaman dengan berbagai cara, antara lain dengan : membaca buku, membaca di internet (tentang pengetahuan Islam, artikel Islam, tausyiah dsb), melihat video Islami yang dapat meningkatkan keimanan kita.
  10. Merasakan kebesaran Allah SWT, atas semua ciptaan-Nya seperti Alam Semesta (jagad raya yang tidak berbatas) beserta semua isinya.
  11. Merenung atas semua kejadian alam yang terjadi di sekeliling kita (tsunami, gunung meletus, gempa dsb). Dimana semua itu mungkin berupa ujian keimanan, peringatan, atau teguran bagi kita agar kita selalu ingat kepada-Nya/ mengikuti perintah-Nya. Bukan makin tersesat ke perbuatan maksiat atau perbuatan lain yang dilarang oleh-Nya. Ya Allah kami mohon bimbingan-Mu agar kami dapat selalu introspeksi atas semua kesalahan yang kami perbuat, meninggalkan larangan-Mu dan kembali ke jalan-Mu ya Allah.
  12. Mensyukuri begitu besar nikmat yang sudah diberikan oleh Allah SWT
    Jangan selalu melihat ke atas, lihatlah orang lain yang lebih susah. Begitu banyak nikmat yang diberikan oleh-Nya.Saat ini kita masih bisa bernafas, masih bisa makan, bisa minum, masih mempunyai keluarga, masih mempunyai apa yang kita miliki saat ini,masih mempunyai panca indera mata, hidung, telinga dan...masih bisa bernafas (masih diberi kesempatan hidup). Masih pantaskah kita tidak bersyukur dan tidak berterimakasih pada-Nya.
  13. Membayangkan surga-Nya.
    Kesenangan duniawi hanya bersifat sementara, sangat singkat dibanding dengan kenikmatan di akhirat yang tidak dibatasi waktu.Semoga kita dapat selalu mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dan Insya Allah diizinkan untuk meraih Surga-Nya. Amin…..

from tausyiah-online.com

~Semoga dimudahkan dan selalu diberi Hidayah-Nya..Amin
BANNER FREE MEMBER

Monday, March 24, 2008

Tafsir Surat Al 'Ashr

Penulis: Buletin Al Ilmu Jember

Para pembaca yang mulia –semoga Allah membuka segala pintu kebaikan kepada kita– untuk edisi kali ini kami akan mengulas tafsir surat terpendek dari Al Qur’an yaitu surat Al Ashr. Allah berfirman:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)

Kedudukan Surat Al ‘Ashr

Al Qur’an adalah kalamullah (firman Allah) sebagai pedoman dan petunjuk ke jalan yang lurus bagi umat manusia. Allah berfirman (artinya):
“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (Al Israa’: 9)

Sehingga semua ayat-ayat Al Qur’an memiliki kedudukan dan fungsi yang agung. Demikian pula pada surat Al ‘Ashr, terkandung di dalamnya makna-makna yang amat berharga bagi siapa saja yang mentadabburinya (memahaminya dengan seksama).

Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i menegaskan tentang kedudukan surat Al ‘Ashr, beliau berkata:

لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّوْرَةَ لَوَسِعَتْهُمْ

“Sekiranya manusia mau memperhatikan (kandungan) surat ini, niscaya surat ini akan mencukupkan baginya.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir pada Surat Al ‘Ashr)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa perkataan Al Imam Asy Syafi’i itu adalah tepat karena Allah telah mengkhabarkan bahwa seluruh manusia dalam keadaan merugi (celaka) kecuali barang siapa yang mu’min (beriman) lagi shalih (beramal shalih) dan ketika bersama dengan yang lainnya saling berwasiat kepada jalan yang haq dan saling berwasiat di atas kesabaran. (Lihat Majmu’ Fatawa, 28/152)

Keutamaan Surat Al ‘Ashr

Al Imam Ath Thabrani menyebutkan dari Ubaidillah bin Hafsh, ia berkata: “Jika dua shahabat Rasulullah bertemu maka keduanya tidak akan berpisah kecuali setelah salah satu darinya membacakan kepada yang lainnya surat Al ‘Ashr hingga selesai, kemudian memberikan salam.” (Al Mu’jamu Al Ausath no: 5097, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani di dalam Ash Shahihah no. 2648)

Kandungan Surat Al ‘Ashr

Pada ayat pertama: ((وَالْعَصْرِ
Allah bersumpah dengan al ‘ashr yang bermakna waktu, zaman atau masa. Pada zaman/masa itulah terjadinya amal perbuatan manusia yang baik atau pun yang buruk. Jika waktu atau zaman itu digunakan untuk amal kebajikan maka itulah jalan terbaik yang akan menghasilkan kebaikan pula. Sebaliknya jika digunakan untuk kejelekan maka tidak ada yang dihasilkan kecuali kerugian dan kecelakaan.

Rasulullah bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌمِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua kenikmatan yang kebanyakan orang lalai di dalamnya; kesehatan, dan waktu senggang” (HR. At Tirmidzi no. 2304, dari shahabat Abdullah bin Abbas)

Kemudian di hari kiamat kelak Allah akan menanyakan tentang umur seseorang, untuk apa dia pergunakan? Sebagaimana hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh shahabat Abdullah bin Mas’ud, beliau bersabda:

لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ

“Tidaklah bergeser telapak kaki bani Adam pada hari kiamat dari sisi Rabb-nya hingga ditanya tentang lima perkara; umurnya untuk apa ia gunakan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, dan apa yang ia perbuat dengan ilmu-ilmu yang telah ia ketahui. (HR. At Tirmidzi no. 2416 dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani di dalam Ash Shahihah no. 947)

Kemudian Allah menyebutkan ayat berikutnya:

إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi.”

Lafazh al insan pada ayat di atas secara kaidah tata bahasa Arab mencakup keumuman manusia tanpa terkecuali. Allah tidak memandang agama, jenis kelamin, status, martabat, dan jabatan, melainkan Allah mengkhabarkan bahwa semua manusia itu dalam keadaan celaka kecuali yang memilki empat sifat yang terdapat pada kelanjutan ayat tersebut.

Kerugian yang dimaksud dalam ayat ini bermacam-macam, bisa kerugian yang bersifat mutlak, seperti keadaan orang yang merugi di dunia dan di akhirat, yang dia kehilangan kenikmatan dan diancam dengan balasan di dalam neraka jahim. Dan bisa juga kerugian tersebut menimpa seseorang akan tetapi tidak mutlak hanya sebagian saja. (Taisir Karimirrahman, karya Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di)

Pertama: Keimanan

Sifat yang pertama adalah beriman, diambil dari penggalan ayat:

إِلاَّ الَّذيْنَ ءَامَنُوْا

“Kecuali orang-orang yang beriman”

Iman adalah keimanan terhadap seluruh apa yang Allah perintahkan untuk mengimaninya, dari beriman kepada Allah, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, malaikat-malaikat-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir, serta segala sesuatu yang dapat mendekatkan kepada Allah dari keyakinan-keyakinan yang benar dan ilmu yang bermanfaat.

Penggalan ayat di atas memiliki kandungan makna yang amat berharga yaitu tentang kewajiban menuntut ilmu agama yang telah diwariskan oleh Nabi.

Mengapa demikian? Tentu, karena tidaklah mungkin seseorang mencapai keimanan yang benar dan sempurna tanpa adanya ilmu pengetahuan terlebih dahulu dari apa yang ia imani dari Al Qur’an dan As Sunnah.
Allah berfirman (artinya):

“Allah bersaksi (bersyahadat untuk diri-Nya sendiri) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia (Allah), para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga bersyahadat yang demikian itu), …” (Ali Imran: 19)

Dalam ayat yang mulia ini Allah menggandengkan syahadat orang-orang yang berilmu dengan syahadat untuk diri-Nya sendiri dan para Malaikat-Nya. Padahal syahadat laa ilaaha illallaah merupakan keimanan yang tertinggi. Hal ini menunjukkan tingginya keutamaan ilmu dan ahli ilmu. Bahkan para ulama menerangkan bahwa salah satu syarat sahnya syahadat adalah berilmu, yaitu mengetahui apa ia persaksikan. Sebagaimana firman Allah:

إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَ هُمْ يَعْلَمُوْنَ

“Kecuali barangsiapa yang bersyahadat dengan haq (tauhid), dalam keadaan mereka mengetahuinya (berilmu).” (Az Zukhruf: 86)

Sehingga tersirat dari penggalan ayat:

إِلاَّ الَّذيْنَ ءَامَنُوْا

kewajiban menimba ilmu agama. Terlebih lagi Rasulullah menegaskan dalam haditsnya:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu (agama) adalah fardhu (kewajiban) atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah no. 224)

Kedua: Beramal shalih

Sifat yang kedua adalah beramal shalih, diambil dari penggalan ayat (artinya):

وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

“Dan beramal shalih.”

Amalan shalih itu mencakup amalan zhahir yang dikerjakan oleh anggota badan maupun amalan batin, baik amalan tersebut bersifat fardhu (wajib) atau pun bersifat mustahab (anjuran).

Keterkaitan antara iman dan amal shalih itu sangatlah erat dan tidak bisa dipisahkan. Karena amal shalih itu merupakan buah dan konsekuensi dari kebenaran iman seseorang. Atas dasar ini para ulama’ menyebutkan salah satu prinsip dasar dari Ahlus Sunnah wal jama’ah bahwa amal shalih itu bagian dari iman. Iman itu bisa bertambah dengan amalan shalih dan akan berkurang dengan amalan yang jelek (kemaksiatan).

Oleh karena itu, dalam Al Qur’an Allah banyak menggabungkan antara iman dan amal shalih dalam satu konteks, seperti dalam ayat ini atau ayat-ayat yang lainnya. Diantaranya firman Allah (artinya): “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl: 97)

Berkata Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di: “Jika dua sifat (iman dan amal shalih) di atas terkumpul pada diri seseorang maka dia telah menyempurnakan dirinya sendiri.” (Taisir Karimirrahman)

Ketiga: Saling menasehati dalam kebenaran

Merupakan salah satu dari sifat-sifat yang menghindarkan seseorang dari kerugian adalah saling menasehati diantara mereka dalam kebenaran, dan di dalam menjalankan ketaatan kepada Allah serta meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan-Nya.
Nasehat merupakan perkara yang agung, dan merupakan jalan rasul di dalam memperingatkan umatnya, sebagaimana Nabi Nuh ketika memperingatkan kaumnya dari kesesatan: “Dan aku memberi nasehat kepada kalian.” (Al A’raaf: 62).

Kemudian Nabi Hud yang berkata kepada kaumnya: “Aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.” (Al A’raaf: 68)

Dengan nasehat itu maka akan tegak agama ini, sebagaimana sabda Rasulullah di dalam haditsnya:

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

“Agama ini adalah nasehat” (H.R Muslim no. 90 dari shahabat Tamim Ad Daari)

Bila nasehat itu mulai kendor dan runtuh maka akan runtuhlah agama ini, karena kemungkaran akan semakin menyebar dan meluas. Sehingga Allah melaknat kaum kafir dari kalangan Bani Israil dikarenakan tidak adanya sifat ini sebagaimana firman-Nya (artinya): “Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka perbuat.” (Al Maidah: 79)

Demikian pula orang-orang munafik yang diantara mereka saling menyuruh kepada perbuatan mungkar dan melarang dari perbuatan yang ma’ruf, Allah telah memberitakan keadaan mereka di dalam Al Quran, sebagaimana firman-Nya (artinya): “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian mereka dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh kepada perbuatan yang mungkar dan melarang dari perbuatan yang ma’ruf.” (At Taubah: 67)

Keempat: Saling menasehati dalam kesabaran

Saling menasehati dalam berbagai macam kesabaran, sabar di atas ketaatan terhadap Allah dan menjalankan segala perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya, sabar terhadap musibah yang menimpa serta sabar terhadap takdir dan ketetapan-Nya.

Orang-orang yang bersabar di atas kebenaran dan saling menasehati satu dengan yang lainnya, maka sesungguhnya Allah telah menjanjikan bagi mereka pahala yang tidak terhitung, Allah berfirman (artinya): “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az Zumar:10)

Jika telah terkumpul pada diri seseorang keempat sifat ini, maka dia telah mencapai puncak kesempurnaan. Karena dengan dua sifat pertama (iman dan amal shalih) ia telah menyempurnakan dirinya sendiri, dan dengan dua sifat terakhir (saling menasehati dalam kebenaran dan dalam kesabaran) ia telah menyempurnakan orang lain. Oleh karena itu, selamatlah ia dari kerugian, bahkan ia telah beruntung dengan keberuntungan yang agung. Wallahu A’lam.

Penutup

Demikianlah para pembaca sedikit dari apa yang kami sampaikan mengenai tafsir Surat Al ‘Ashr semoga dapat memberikan bimbingan kepada kita semua di dalam menempuh agama yang telah diridhai oleh Allah ini. Dan tentunya kita berharap agar dapat memiliki 4 sifat yang akan menyelamatkan kita dari kerugian baik di dunia maupun di akhirat. Amin, Ya Rabbal ‘alamin.

Sumber: http://www.assalafy.org/artikel.php?kategori=tafsir=1

Friday, March 21, 2008

Siapkan Apa yang Akan Anda Petik

Maha Suci Allah Yang telah menurunkan Islam melalui Rasul-Nya yang mulia. Islam menjadi bukan sekadar indah. Tapi, mudah dan penuh berkah. Seperti halnya hujan, siraman Islam mampu menumbuhkan bibit-bibit kebaikan yang pernah dianggap mati. Setiap orang akan menuai apa yang ditanam Tidak semua orang mampu berpikirpanjang. Apalagi dengan perhitungan yang teliti. Itulah kenapa tidak sedikit yang melakukan sesuatu cuma buat keuntungan sesaat. “Yang penting saya untung, peduli amat orang lain!”
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri….”(Al-Isra’:7)
Padahal, alam mengajarkan bahwa aksi sama dengan reaksi. Apa yang diterima alam, itulah yang akan diberikan ke manusia. Ada banjir karena keseimbangan alam terganggu: penebangan hutan, buang sampah ke sungai, dan lain-lain. Begitu pun dalam pergaulan sesama manusia. Kita akan menerima apa yang telah kita berikan. Jika kebaikan yang kita berikan, balasannya pun tak jauh dari kebaikan. Bahkan, mungkin lebih.

Para pedagang, baik barang dan jasa, paham sekali rumus ini. Kalau mereka ingin mendapat kebaikan dari konsumen, pancingannya pun dengan sesuatu yang baik. Ada pedagang yang menyediakan air minum kemasan gratis, keramahan para pelayan, bahkan ruangan khusus untuk menunggu. Mereka menganggap: konsumen adalah raja.

Dalam dakwah pun seperti itu. Dakwah akan diterima mudah jika seluruh kemasannya selalu baik: penyampaian yang santun, isi yang tidak meresahkan, perhatian yang tidak pernah putus, dan tentu saja, bukti kongkrit si penyampai yang selalu baik. Kalau ini yang terus bergulir, para pelaksana dakwah tidak perlu repot-repot mengarahkan ke mana suara umat saat partisipasi mereka dibutuhkan.

Jika kita tidak ingin keburukan, begitu pun orang lain Semua orang ingin mendapatkan yang baik. Begitu pun sebaliknya. Tak ada yang ingin dapat yang buruk. Cuma masalahnya, sikap itu tidak diiringi dengan aksi yang positif. Ketika dapat ingin yang baik, tapi saat memberi selalu yang buruk.

Sebenarnya, ketika seorang melakukan sesuatu yang buruk, saat itu juga ia sedang berharap ada keburukan yang akan ia terima. Disadari atau tidak. Sayangnya, jarang yang mau bercermin diri: apa yang telah saya lakukan. Lebih banyak mana: baik atau buruk. Baru kemudian, kenapa orang lain berbuat buruk pada saya?

Al-Qur’an bahkan mengajarkan untuk membalas keburukan dengan cara yang terbaik. Allah swt. berfirman dalam surah Fushilat ayat 34.
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.”
Ini memang berat. Ajaran ini lebih tinggi dari sekadar kebaikan berbalas kebaikan, dan keburukan berbalas hal serupa. Lebih dari itu, memberikan reaksi dari sebuah keburukan dengan sudut pandang positif. Dan hasilnya sangat luar biasa. Keburukan bukan hanya hilang, tapi berganti dengan kebaikan.

Itulah yang dilakukan Rasulullah saw. saat penaklukan Mekah. Tak seorang pun yang ditakut-takuti, disiksa, atau hukum mati tanpa sebab. Justru, yang keluar dari mulut Rasulullah saw. adalah pengampunan dan perdamaian. Inilah yang menjadikan Mekah berubah seratus delapan puluh derajat. Drastis! Orang yang dulu memusuhi Islam menjadi pembela Islam.

Berpikirlah apa yang bisa diberikan, bukan yang diterima Semangat berbuat baik memang tidak akan tumbuh dari mereka yang punya sikap pasif. Ketika yang dipikirkan seseorang cuma bagaimana menerima, darimana datangnya penerimaan; seluruh otot aktivitasnya menjadi mandul. Semangat berbuat baiknya sudah mati sebelum fisiknya benar-benar mati.

Tentunya, sulit mendapatkan sesuatu yang positif dari orang tipe ini. Jangankan membalas keburukan dengan kebaikan, mengawali kebaikan pun terasa berat. Semua aktivitasnya terkungkung dalam kalkulator sempit. Hitungannya selalu pada keuntungan materi sesaat. Bukan sesuatu yang lebih mahal dari sekadar materi. Antara lain, ketenangan, keharmonisan, cinta dan persaudaraan.

Tokoh Anwar Ibrahim mungkin salah satu contoh baik. Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia ini pernah difitnah secara keji. Tidak tanggung-tanggung, ia dituduh pelaku korupsi dan kejahatan homoseksual. Namun, seluruh warga tempat tinggalnya siap menjadi saksi: bahwa Anwar mustahil seperti yang dituduhkan. Itulah buah baik yang selama ini telah ditanam Anwar. Masyarakat sekitarnya, tanpa diminta pun, siap menjadi pembela.

Siapkan awal buat akhir, bukan sebaliknya Seorang mukmin punya visi tersendiri tentang amal kebaikan. Kebaikan bukan sekadar tuntutan pergaulan universal, tapi sebagai bekal di hari kemudian. Itulah investasi atau tabungan yang tidak pernah rugi.

Allah swt. berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr:18)
Masalahnya, kesadaran itu kadang larut dengan gemerlap dunia materialistis. Kebaikan bergeser dari tabungan buat akhirat menjadi hitung-hitungan untung rugi. Berapa yang telah dikeluarkan, dan berapa yang akan diterima. Inilah akhirnya, orang menjadi miskin bekal. Jika itu yang terjadi, kesudahan selalu berujung pada penyesalan.

Maha Benar Allah swt. dalam firman-Nya,
“Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Al-Zalzalah:7-8)
~syukron katsiron buat mas beny

Saturday, October 14, 2006

Lailatul Qadr

Hadist riwayat Ibnu Umar ra.:
Bahwa sekelompok orang dari sahabat Rasulullah saw. bermimpi melihat lailatulkadar pada hari ke tujuh yang terakhir. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Menurutku bahwa mimpi kalian pasti bertepatan dengan hari ke tujuh terakhir, maka barang siapa yang ingin menantinya, maka hendaklah ia menanti pada hari ke tujuh terakhir (bulan Ramadhan)

Links:
[tanda-tanda lailatul qadR]
http://www.fajar.co.id/ramadan/news.php?newsid=107

[menyOngsOng lailatul qadR]
http://www.pesantrenvirtual.com/ramadhan/1422-018.shtml

[lailatul qadaR Rahmat Allah swt kepada manusia]
http://mufti.perak.gov.my/artikel/LAILATUL%20QADAR.pdf

[kapan sih sebenaRnya malam lailatul qadaR?]
http://www.antara.co.id/ramadhan/qa/?id=22

[lailatul qadaR dan caRa mempeROlehnya]
http://www.kedaikopionline.com/index.php?option=com_content&task=view&id=35

[hikmah lailatul qadaR]
http://ramadan.bharian.com.my/Current_News/Ramadan1427/Hari/Ihya/20060922173819/Article/index_html

[membuRu lailatul qadaR]
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1104/03/0108.htm

[lailatul qadaR]
http://www.alirsyad.or.id/comments.php?id=P850_0_17_0_C

[nikmat zikiR, berdOa malam lailatul qadaR]
http://utusanrasul.tblog.com/post/1969918828

[antaRa tanda-tanda lailatul qadaR]
http://van.9f.com/hadis/tanda_lailatul_qodar.htm

[mencaRi lailatul qadaR]
http://www.ikim.gov.my/v5/index.php?lg=1&opt=com_article&grp=2&sec=&key=670&cmd=resetall

[sOal jawab Ramadhan]
http://www.muis.gov.sg/cms/uploadedFiles/MuisGovSG/News_Events/Ramadan/Soal%20Jawab%20Ramadan.pdf

[nuzulul quRan bukan 17 Ramadan]
http://www.suaramerdeka.com/harian/0510/21/opi3.htm

-perbanyakamalmenujusurga-