Ironi nomor satu
Jumat, Juli 03, 2009
Malam itu, tingkahnya menjadi perhatian
dia bukan apa-apa
bukan siapa-siapa, manusia biasa
Pikiranku pun menelusup jauh dalam
jauh dalam, hening sunyi senyap
Dia, yang dengan tingkahnya
sangat sederhana, sangat mudah diremehkan
namun siapa yang bisa mendengar jeritnya
Dia, yang dengan tingkahnya
begitu dalam, begitu mudah menggugah
siapa sangka bermakna
Dia bukan apa-apa, tingkahnya hanyalah sesuap nasi hari esok
gelas aqua jelas bukan yang dicari, hanyalah sesuap nasi hari esok
pikiranku semakin dalam menelusup
jauh dalam, hening sunyi senyap
sementara di sini sering melewatkan gelas aqua
terkapar menggelegar terbunuh waktu
dan bumi telah siap menampungnya
Label: Puisi
posted by Franova Herdiyanto @ 00:09,
![]()
4 Comments:
- At 28/7/09 08:16, Rifa Mulyawan said...
-
bagian
"sementara di sini sering melewatkan gelas aqua
terkapar menggelegar terbunuh waktu
dan bumi telah siap menampungnya"
artinya apa?
maaf nih, susah menginterpretasikan bahasa2 beginian..
hehe...
-blogwalking, salam kenal! - At 28/7/09 08:22, Franova Herdiyanto said...
-
salam kenal juga mas rifa..
itu maksudnya saya sering melewatkan kesempatan-kesempatan kecil yang ternyata sangat berarti. Padahal waktu semakin lama semakin habis, jadi tidak punya peluang lagi. Sampai akhirnya nanti maut datang menjemput..
begitu mas :) - At 31/8/09 15:03, syazwarya_diary said...
-
Wah dalam banget yah tulisan kamu, saya suka. Rasanya kok saya terharu yah dengan membaca tulisan ini..
- At 11/9/09 15:18, Franova Herdiyanto said...
-
wah makasih ya mba..
salam kelan ya mba..










