Thursday, August 21, 2008

Selamatkan Indonesia! : Sebuah Buku Pendobrak Korporatokrasi

Awal semester pertama tahun 2008 merupakan saat saya berkenalan dengan buku ini. Saat itu saya melihat peluncurannya dalam sebuah acara di televisi. Sebuah buku yang ditulis langsung oleh Mohammad Amien Rais tentang kegusarannya akan kondisi bangsa dan negara saat ini. Tak lama ketika saya melihat acara itu,hati saya langsung jatuh hati dengan buku ini karena terngiang tentang isi-isinya yang penuh dengan kritik tajam kian pedas terhadap Presiden Yudhoyono. Bukan berarti saya juga menjadi oposisi "kutu gurem" keras terhadap pemerintahan Yudhoyono, tetapi saya hanya ingin melihat sudut lain dari ruangan yang sudah saya ketahui. Pencerdasan politik atau Tarbiyah siyasiyah. Keinginan membeli buku ini pun lahir tidak lama setelah saya jatuh hati. Namun berbagai keinginan yang lain serta banyaknya pengeluaran pada masa itu, membuat saya harus menunda untuk mendapatkan buku tersebut. Dan akhirnya saya baru mendapatkannya ketika keberuntungan tak sengaja datang mengetuk pintu. Kebetulan saat itu saya sedang punya rezeki setelah menjadi Pengajar IT staff Depdiknas dan bertemu dengan buku yang hanya tersisa satu buah di toko buku dalam lingkungan mesjid Ukhuwah Islamiyah.

Waktu untuk berkenalan dengan buku ini pun tidak memakan waktu yang lama. Karena dengan membaca kata pengantarnya saja saya sudah mencium aroma nasionalisme dari seorang Mohammad Amien Rais. Namun dari aroma yang saya cium itu saya bisa memahami ketakutan luar biasa yang sedang dihadapi oleh beliau. Ketakutan yang seharusnya juga dirasakan oleh setiap warga negara Indonesia di setiap jengkal tanah di bumi kita tercinta ini. sebuah ketakutan luar biasa yang menyulut api semangat untuk menghadapinya. Ketakutan adalah wajar, lari dari ketakutan yang tidak wajar. Alhasil lahirlah sebuah agenda mendesak bangsa yang disertai oleh beberapa macam solusi untuk menghadapi masalah di Indonesia ini.

Agenda mendesak bangsa ini lahir dari ketakutan terhadap nasionalisme sempit yang dialami oleh banyak masyarakat Indonesia bahkan beberapa pemimpin Indonesia. Nasionalisme sempit adalah nasionalisme simbolik yang lebih menomorsatukan prestasi-prestasi di tataran praktis seperti prestasi olahraga. Menurut Amien Rais banyak masyarakat yang sudah terjangkiti penyakit ini.Padahal harusnya nasionalisme yang ada haruslah lebih utuh meliputi nasionalisme ekonomi,politik, pertahanan dan keamanan, dan lain-lain. Nasionalisme ini menurut beliau dapat menjadikan negara kita kokoh dan menjadi mandiri serta bisa bertahan terhadap arus negatif pergaulan dunia.

Dalam bab-bab awal buku ini, Amien Rais menceritakan tentang kondisi yang hampir sama dengan kondisi sekarang. Kondisi yang hampir sama tersebut adalah saat masa penjajahan belanda dimana imperialisme dan kolonialisme berjaya di bawah kekuasaan VOC. Pada masa itu, semua sumber daya alam dan manusia Indonesia dikuras habis oleh penjajah untuk kepentingan mereka. Dari sanalah lahir pertama kalinya sistem korporasi di dunia. sebuah korporasi yang tangguh yang didukung oleh militer dan bangsa Indonesia sendiri. Untuk alasan yang terakhir, coba kita kembali berkaca kepada Amangkurat I dan II yang telah tega berkhianat terhadap tanah tumpah darahnya sendiri demi kekayaan pribadi. Coba bedakan kondisi dahulu dengan sekarang. Apakah ada bedanya?

Korporat pertama yang bernama VOC ternyata adalah awal dari terbentuknya korporasi yang ada di dunia sekarang ini. Dan di dalam buku ini dikenalkan kepada kita suatu istilah menggelitik yaitu Korporatokrasi. Korporatokrasi sendiri berarti sistem atau mesin kekuasaan yang bertujuan untuk mengontrol ekonomi dan politik global yang memiliki 7 unsur, yaitu: korporasi-korporasi besar;kekuatan politik pemerintah tertentu, terutama Amerika dan kaki tangannya;perbankan nasional;kekuatan militer;media massa;kaum intelektual yang dikooptasi; dan terakhir, yang tidak kalah penting adalah elite nasional negara-negara berkembang yang bermental inlander, komprador, atau pelayan.

Semua unsur yang tersebut di atas yang meliputi korporatokrasi sejatinya adalah syarat bagi terjadinya mega korupsi yaitu korupsi yang menyandera negara (State Capture Corruption). Dan menurut buku ini,Indonesia sedang melakukannya. Beberapa indikasinya ialah ketergantungan kita terhadap IMF, WTO, dan bank dunia, serta kepatuhan berlebihan terhadap perusahaan-perusahaan multinasional yang ada. Bahkan terhadap beberapa korporasi seperti Freeport kita tidak dapat berbuat apa-apa. Dan di dalam buku ini dikupas habis segala perlakuan IMF, WTO, Bank Dunia, serta korporasi terhadap bangsa Indonesia. Selain itu juga diceritakan pula ketidakberdayaan pemerintah kita dalam menangangi semua hal tersebut. Tidak seperti yang dilakukan oleh negara lainnnya seperti Venezuela, Bolivia, China, Malaysia, India, Iran,dan juga Ekuador.


Sikap yang menyebabkan banyaknya kasus-kasus korupsi adalah sikap inlander. Sebuah sikap yang disebut oleh Amien rais sebagai sikap tercela yang mencederai kehormatan bangsa Indonesia. Sikap tersebut terjadi akibat terlalu mementingkan pribadi ataupun kelompok.

Lalu apa yang harus kita lakukan atau apa yang harus pemimpin kita kelak lakukan. Beberapa solusi itu adalah:
  1. perlu adanya kepemimpinan alternatif yang bebas, merdeka, dan mandiri
  2. perlu adanya pemimpin muda yang memiliki wawasan nasional dan Internasional
  3. perlu adanya pemahaman bahwa kekuasaan adalah amanat rakyat yang harus dilaksanakan secara bijaksana
  4. perlu adanya kesetaraan, kesedarajatan, dan kesejajaran dalam berhubungan dengan negara lain
  5. perlu adanya sikap dari pemimpinuntuk keluar dari korupsi yang menyandera negara
Dan beberapa solusi tersebut menutup cerita di buku tersebut yang menurut saya sangat bagus dan bisa membuka mata kita terhadap keadaan Indonesia serta dapat menghilangkan sikap apatis terhadap kemajuan negara kita tercinta. Bung Karno sendiri pernah berkata, "Pekerjaanku mudah karena melawan penjajah, sedangkan pekerjaan kalian malah lebih sulit karena melawan bangsa sendiri". Sebuah perkataan yang membakar semangat nasionalisme kita untuk bisa bertahan dari neokolonialisme.
Pekerjaanku mudah karena melawan penjajah, sedangkan pekerjaan kalian malah lebih sulit karena melawan bangsa sendiri -Bung Karno-
Terakhir saya ingin mengomentari tentang pendapat-pendapat yang telah ada tentang buku ini. Seperti kita ketahui bahwa buku ini terbit satu tahun sebelum pemilu 2009 digelar. Apakah ini kemungkinan amien Rais akan mencalonkan kembali pada waktu itu nanti? Dan terkait pertanyaan tersebut, apakah buku ini adalah sarana kampanye beliau? karena dengan sangat jelas sekali beliau mengkritik secara tajam bahkan sadis terhadap dua pemimpin bangsa kita saat ini yaitu Megawati dan yudhoyono. Terlepas dari itu, menurut saya sah-sah saja jika ada anak bangsa yang bersuara sedemikian keras seperti ini. Karena itu perlu dan perlu dan perlu. Dan sekali lagi terlepas dari kampanye pemilu 2009, menurut saya buku ini perlu dibaca oleh semua kalangan demi menyadarkan diri kita yang telah tertidur. sebuah karya anak bangsa yang saya rekomendasikan untuk anda baca.

Terima kasih. Mohon maaf jikalau ada kesalahan. wallahualam bishowab.

Indonesia Merdeka!!!
Indonesia Bisa!!!


BANNER FREE MEMBER

12 comments:

vidyanitakumalasari said...

apakah jabatan sebagai ketua mpr belum cukup untuk seorang amien rais untuk dapat mengubah indonesia??

well,sebenernya gw cukup respek sama beliau waktu jamannya reformasi...tapi seiring berjalannya waktu, pada saat beliau menjadi ketua mpr, tidak ada perubahan yang signifikan, so saat ini, buat saya "ngomong aja sesuka lo..." (bukan berarti saya pendukung sby-jk lho)

sama seperti yang sekarang, sebenarnya ada apa dengan jabatan tersebut??
sehingga tidak "terdengar" apa kontribusinya bagi indonesia..

ooo....mungkin nanti kalau sudah jadi presiden kali ya :)

~hanyaOpiniDariSeorangRakyatyangMerasaHidupdiIndonesiaSemakinSulit

Franova Herdiyanto said...

Hmm..Kalau dalam Trias politika versinya montesqeui, hanya disebutkan tiga pilar demokrasi yaitu legislatif, yudikatif, dan eksekutif. dan Indonesia memang sedang menganut sistem pemerintahan seperti itu. Jadi kalau ditanya gunanya MPR itu apa? kita juga bingung menempatkannya. yang sudah kita ketahui MPR adalah lembaga pemberi mandat kepada presiden yang menyelenggarakan sidang eksekutif serta sidang tahunan.

Saya sendiri juga bukan pendukung amien rais ataupun yudhoyono, namun setelah membaca buku ini saya bisa tahu permasalahan yang sedang menjangkiti Indonesia. dan dari pemahamam itu saya bisa sadar dan berusaha untuk menjadi tidak apatis lagi terhadap kemajuan bangsa indonesia.

nyiell said...

u have to read Harus Bisa, wrote by dino patti djalal! and u will realize how lucky we have SBY! more action is better then talk only..

*gw mengidolakan SBY, smel.. :P*

Franova Herdiyanto said...

ok ril..good comment.
Nanti coba gw cari bukunya. Biar bisa seimbang. Soalnya gw juga nggak mau terkonstruksi secara sepihak.

Mengenai SBY, gw mau jadi orang yang sportif ril..Gw akui banyak juga keberhasilan yang telah pemerintahan raih. Tapi selama belum ada kejelasan pasti tentang posisi Indonesia terhadap banyak ketimpangan ekonomi politik dan ekonomi, gw harap ada orang yang lebih baik dari SBY.

Yah, masing-masing kita punya persepsi berbeda. Namun kita harus satukan rasa dan semangat hanya untuk kemajuan Indonesia jua.

agungfirmansyah said...

Akhirnya Pak Prof nerbitin buku juga...

tiara said...

Smile yang baik, boleh minjem bukunya gak? gw tertarik baca nih...boleh ya?

Franova Herdiyanto said...

@Agung: iya gung ini buku pertama beliau tahun ini, tapi kalau tahun2 sebelumnya dia juga udah bikin buku banyak, sebagian besar bukunya mengusung tema nasionalisasi, reformasi, dan masalah freeport.

@Tiara: Nunggu sebentar ya ra. Soalnya bukunya sedang dipinjam. Nanti kalau sudah dikembalikan, saya langsung hubungi tiara. OK?

agungfirmansyah said...

UI ga cuma Jakarta
Salemba ada, Depok pun punya
Romadhon ga cuma puasa
Berani, kita balapan pahala?
:D
Met puasa. Mohon maaf lahir batin ya...

-Agung, csui05-

Franova Herdiyanto said...

@Agung: sama-sama gung...
eh btw,,jangan lupa UI Cikini ya...ada juga loh di sana...

pemikir_ulung said...

ya..mel..tapi jangan ditagih buru-buru ya..abis lebaran baru pe balikin ok? n_n

Franova Herdiyanto said...

@pemi: OK pe..tapi kalau bisa ASAP..hehehe..biar smile bisa bayar utangnya juga.. :p

Adhamaski Pangeran said...

mengkritik sby tapi mendekat ke sby sekarang dengan mencalonkan hatta atau SB. hmm.. ngk konsisten. kalau tahu sby adalah pesuruh amerika, kenapa harus mendekat dan mendukung sby. kenapa tidak mencalonkan pemimpin muda seperti yg ia bilang.

terlebih dengan peryataannya yg mengatakan mubazir jikalau berkoalisi dengan pihak yg kalah. artinya hanya kekuasaan kan?

penulis buku yg baik, tapi bukan seorang teladan yg baik.