Monday, August 18, 2008

Tan Malaka : Pahlawan masa lalu, masa kini, dan masa depan

Saya merasa ragu jika bertanya kepada anak-anak sekolah masa kini tentang nama Tan Malaka. Bahkan saya juga menjadi tambah ragu jika pertanyaan yang sama diberikan kepada orang-orang yang lahir pada masa orde baru ataupun masa reformasi sekarang ini.Saya ragu apakah mereka akan mengenalnya atau tidak. Majalah Tempo (Edisi 11-17 Agustus 2008) memberikan judul "Bapak Republik yang terlupakan" pada seorang Tan Malaka. Hal ini tidak mengherankan karena sejak awal proses kemerdekaan, figur Tan Malaka tidak begitu terlihat di lapangan, apalagi dengan ditutupinya peran beliau oleh bapak-bapak bangsa yang lainnya yang waktu itu sedang bersinar seperti Bung Karno, Bung Hatta, Pak Dirman, dll. Proses "melupakan" ini diperparah dengan kebijakan pemerintahan orde baru yang menyaring nama beliau dalam buku teks pendidikan sejarah Indonesia dikarenakan menganggap sosok Tan Malaka sangat akrab dengan ajaran Komunisme. sebuah pernyataan yang tak terbantahkan tapi merupakan keputusan yang merugikan sejarah Indonesia.

Tan Malaka yang merupakan alumni dari SMA negeri 2 Bukittinggi ini sebenarnya merupakan tokoh penting dan sentral dalam perjalanan Revolusi Indonesia. Namanya dikenal lewat karya-karyanya berupa buku-buku perjuangan yang diterbitkan sejak tahun 1920. Salah satu buku-buku yang terkenal adalah Naar de Republiek Indonesia/Menuju Republik Indonesia (1924), Massa Aksi(1926), Madilog(1943), dan juga Dari Penjara ke Penjara (3 Jilid,1948). Buku-buku itu menjadi pedoman pergerakan revolusi bangsa Indonesia. Nama-nama seperti Soekarno, Sukarni, Muhammad Yamin, Adam Malik membaca dan mengagumi karya-karya beliau. Bahkan bukunya yang berjudul "Massa Aksi" menjadi buku pegangan Bung Karno saat menjadi ketua Klub debat Bandung. Buku yang sama pula yang memberi inspirasi pada W.R. Supratman dalam menciptakan lagu Indonesia Raya. Dan yang lebih menakjubkan adalah bukunya yang berjudul Naar de Republiek Indonesia. Buku yang berbahasa belanda ini adalah buku pertama yang menggagaskan tentang adanya sebuah republik yang melawan Kolonialisme dan Imperialisme barat. Republik itu adalah Republik Indonesia. Buku itu dibuat jauh sebelum bung Karno dan bung Hatta menciptakan sebuah buku pergerakan. Oleh karena karya beliau itu, beliau dijuluki sebagai Bapak Republik oleh Muhammad Yamin.

Tidak hanya rakyat Indonesia saja yang mengagumi pemikiran beliau, para rakyat di eropa dan asia pun turut luluh dan terlecut rasa kebangsaannya setelah membaca karya beliau. Hal inilah yang menjadikan beliau selalu dikejar-kejar oleh negara-negara penjajah yang tidak menginginkan keberadaan beliau.

Setelah lulus SMA beliau melanjutkan pendidikannya di Belanda. Di sinilah beliau banyak belajar tentang ilmu politik. Selain belajar di bangku sekolah, beliau juga belajar langsung tentang keadaan yang sedang terjadi di daerah sekitarnya. Dan kebetulan beliau tinggal di perkampungan buruh dan kaum proletar lainnya. Di daerah inilah beliau semakin tertarik dengan ajaran Komunisme yang dianggapnya sebagai gerakan melawan kolonialisme dan imperialisme. Ketertarikannya inilah yang nantinya membawa beliau menjabat posisi teratas pada Partai Komunis Hindia-Belanda, Partai Komunis Indonesia, dan juga pengawas Komunis pada kawasan asia pasifik. Namun kecintaannya pada Komunis luntur sejalan dengan kepercayaannya bahwa PAN-Islam adalah salah satu elemen yang tidak bisa dilawan tetapi harus disejajarkan dengan ajaran Komunis yang berintikan penolakan terhadap kolonialisme dan Imperialisme. Singkat kata beliau ingin mengabungkan gerakan Anti kemapanan dengan ajaran Islam.

Sikap Tan Malaka yang mengganggap ajaran Komunisme harus bergabung dengan PAN-Islam disampaikan saat beliau menjadi perwakilan Indonesia pada Kongres Komunis Internasional ke-4 di Moskow yang diselenggarakan tahun 1922. Saat itu para peserta kongres kagum akan pemikiran beliau dan juga teknik orasi beliau. "Kongres memberi tepuk tangan yang ramai pada Tan Malaka, seolah-olah telah memberi ovasi padanya," tulis Gerard Vanter untuk harian de Tribune. Dari pemikiran beliau itu, para pengagumnya dibuat semakin bangga kepada beliau karena telah bisa mengambil apa-apa yang baik dari suatu ajaran. Ia seorang Marxis, tapi sekaligus nasionalis. Ia seorang komunis, tapi juga mengedepankan PAN-Islam untuk berjalan bersama dengannya. Ajaran islam dia dapatkan dari tanah kelahirannya di Minangkabau. Dan siapa sangka kalau ternyata dia adalah penghafal Al-Qur'an saat muda.

Tan Malaka yang memiliki kegemaran menulis dan bermain sepakbola ini, pada saat detik-detik proklamasi merupakan orang penting yang berada di belakang terjadinya proklamasi tersebut. Dari persembunyiannya di banten (red: saat itu menjadi buronan dan berganti nama menjadi Ilyas Hussein), tanggal 14 Agustus 1945 Tan Malaka pergi ke Jakarta untuk mengetahui informasi terkini tentang Jepang pada perang dunia kedua. Saat itu beliau pergi ke rumah BM Diah, ketua angkatan baru dan juga redaktur koran Asia Raya, satu-satunya koran yang terbit di Jakarta untuk mengetahui informasi yang diinginkannya. Setelah mendapatkan informasi dari Diah, Tan malaka berpendapat bahwa pimpinan revolusi kemerdekaan harus di tangan pemuda. Hal yang sama disampaikannya saat bertandang ke rumah Sukarni sehabis dari rumah BM. Diah. Saat itu Sukarni terkagum-kagum dengan pemikiran beliau dan setuju dengan pendapat beliau. Namun beliau lantas curiga dengan Tan Malaka yang saat itu bernama Ilyas Hussein. Sukarni curiga orang ini adalah mata-mata Jepang. Padahal dalam pikiran Sukarni sempat terbesit nama Tan Malaka ketika mendengar pendapat Ilyas hussein. Sukarni merasa pendapat ilyas hussein sama persis dengan buku yang ditulis oleh panutannya yaitu Tan malaka. Tan malaka sendiri saat itu menjadi pembicaraan orang banyak tentang karya besarnya serta hilangnya beliau karena dikejar-kejar belanda dan jepang. Bahkan saat itu terdengar kabar kalau Tan Malaka telah tewas dibunuh. Dan yang lebih menghebohkan lagi adalah banyak munculnya Tan Malaka palsu buatan Jepang agar para pemberontak dapat keluar dari bawah tanah karena terpancing oleh karisma Tan Malaka. Namun taktik itu tidak berhasil karena setelah diuji para Tan Malaka palsu tidak memiliki pemikiran yang sama dengan apa yang ada di buku.

Pada tanggal 15 Agustus 1945, sukarni belum mempercayai bahwa ilyas Hussein adalah Tan Malaka yang asli. Oleh karena itu dia tidak banyak mengikutsertakan ilyas hussein dalam salah satu proses sejarah yang teramat penting yang lahir akibat diskusi antara Ilyas Hussein dan Sukarni pada hari sebelumnya tentang pimpinan revolusi kemerdekaan harus di tangan pemuda dan tanpa kompromi dengan Jepang. Peristiwa itu adalah pengamanan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Peran Tan Malaka semakin tidak terlihat setelah terjadinya pembacaan Teks proklamasi pada hari setelah peristiwa Rengasdengklok, dan dia tidak mengetahuinya padahal beliaulah aktor besar di balik semua itu, semangat pemuda dan juga dasar pemikiran Soekarno. Dalam buku Riwayat Proklamasi agustus 1945, Adam Malik melukiskan peristiwa itu sebagai "Kepedihan Riwayat". sukarni bertahun-tahun membaca buku politik Tan. Tapi pada saat ia membutuhkan pikiran dari orang sekaliber Tan, Sukarni enggan bertanya siapa Hussein sesungguhnya. "Ia malah membiarkannya pergi jalan kaki, lepas dari pandangan mata," kata Adam Malik.

Setelah Proklamasi kemrdekaan berlangsung, Tan pergi ke rumah Teman satu almamater dengan beliau di Belanda, teman itu adalah Ahmad subarjo. subarjo yang saat itu ada di rumah keget dengan kedatangan Tan. Beliau mengetahui bahwa Tan telah tewas, tetapi terbukti berita itu tidak benar. Setelah itu beliau dikenalkan oleh bung Karno oleh subarjo. Bung Karno yang saat itu mengidolakan Tan Malaka, semakin kagum setelah berdiskusi dengan beliau. Setelah membentuk pemerintahan bung Karno membuat Testamen Politik yang menetapkan Tan Malaka sebagai pengganti dirinya jika Soekarno-Hatta ditawan oleh Belanda dan tentara Sekutu. Testamen itu dibuat setelah Soekarno mendengar prediksi Tan Malaka bahwa Belanda akan kembali datang setelah proklamasi kemerdekaan. Dan prediksi itu tepat.

Dua minggu bersama bung Karno,Tan merasa kecewa dengan sikap bunga Karno dan Hatta yang masih berkompromi dengan Jepang yang masih ada di Indonesia. Beliau juga merasa kecewa dengan masih adanya rasa takut pada rakyat Indonesia untuk melawan Jepang yang saat itu telah kalah. Kemudian dengan tokoh pemuda seperti Sukarni beliau merencanakan menggelar aksi massa sesuai yang tercermin pada bukunya Massa Aksi pada tanggal 17 September 1945. Aksi massa itu dikenal dengan Rapat Akbar di Lapangan Ikada. waktu pelaksanaannya sendiri mundur dari jadwal sehingga baru bisa berlangsung pada tanggal 19 September 1945. Pada aksi massa itu, Tan Malaka bermaksud untuk membangkitkan semangat rakyat bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan lagi. untuk menambah semangat, Tan mengundang seluruh jajaran pemerintahan. Namun Tan merasa kecewa dengan pidato yang disampaikan oleh soekarno karena dianggap masih bersifat diplomatis dan tidak mencerminkan massa aksi dari rakyat,oleh Rakyat, dan Untuk Rakyat.

Setelah peristiwa di lapangan Ikada tersebut, Tan Malaka diminta oleh Soekarno untuk menjadi bagian dalam pemerintahan Indonesia. saat itu Tan menolak karena merasa pemerintahan yang ada masih mengutamakan unsur diplomasi kepada Jepang. "Orang tak akan berunding dengan maling di rumahnya sendiri," kata Tan Malaka.Hal ini diperparah lagi dengan dipimpinnya pemerintahan kala itu oleh Sutan Syahrir sebagai perdana mentri. Syahrir adalah sosok yang sangat bertentangan dengan dirinya. Syahris seorang sosial-demokrat. Kemudian karir politik Tan Malaka berlanjut dengan membentuk beberapa partai. salah satunya adalah Partai Murba. Padahal sebelumnya Tan malaka telah mendirikan Partai Republik Indonesia di Thailand pada tahun 1927.

Pemikirannya tentang tak ada kompromi dengan pihak penjajah diamini oleh sudirman yang kala itu menjabat sebagai panglima besar TNI RI. Pak Dirman menganggap kemerdekaan seratus persen adalah mutlak. Karena persamaan pendapat ini beliau dekat dengan Tan Malaka. Kedua orang ini disebut Dwitunggal dan disamakan dengan Soekarno-Hatta dan Amir Syarifudin-syahrir oleh Adam Malik.Duet ini ditambah kompak setelah Pak Dirman sepakat dengan pemikiran Tan Malaka dalam Buku Gerilya Politik Ekonomi tulisan Tan Malaka. Pak Dirman dan Tan Malaka berkerjasama dalam mengatasi Agresi militer belanda kedua, padahal saat itu Tan Malaka sedang menjadi buronan pemerintah RI karena dianggap merencanakan kudeta.Saat syahrir mengutus orang untuk membesmi Tan Malaka, pak Dirman pun mengutus orang untuk membasmi pasukan yang hendak menagkap Tan Malaka. Namun utusannya itu ditangkap oleh Letkol Soeharto(presiden Ri ke-2) setelah melakukan aksinya.

Pada saat Agresi militer belanda kedua, belanda berhasil menawan Soekarno, Hatta, Syahrir, Haji agus salim. Namun pak Dirman berhasil meloloskan diri dan melaksanakan perang gerilya di pelosok pulau jawa. Begitu pula dengan Tan Malaka, beliau bersama Mayor sabarudin dan 50 pengawal bergerak melaksanakan perang gerilya juga. Namun beliau dengan tragis tewas di tangan batalion pimpinan Soekotjo(selanjutnya menjabat Walikota surabaya) di dusun Selopanggung, semen, Kediri, di kaki gunung Wilis, Jawa Tmur. Beliau tewas di tangan angkatan perang negara yang dia idam-idamkan sejak lama. Sungguh ironis dan tragis. Baru pada tahun 1963, beliau ditetapkan sebagai pahlawan Nasional oleh presiden soekarno. sementara itu sejak kematiannya, para pengikut setianya sperti Sukarni, adam Malik, chaerul Saleh, dan muhammad Yamin terus menyerukan pemikiran beliau dan membesarkan partai Murba. Partai "Musyawarah rakyat banyak" yang ada kenyataannya tidak pernah sukses dalam pemilu. Hal ini dikarenakan isu ajaran komunis yang ada pada partai ini. padahal bukan Komunis yang ada di balik pandangan hidup partai ini.

Banyak cerita beliau yang tidak sempat ditulis di sini. Hal ini dikarenakan kisah beliau yang amat panjang dan juga membanggakan. Kisah-kisah seperti khayalan beliau tentang adanya republik Indonesia yang meliputi seluruh wilayah di ASEAN tidak sempat ditulis. Padahal beliau menjadikan filiphina sebagai tanah keduanya dan menyebutnya dengan sebutan Indonesia Utara dan juga mendirkan partai republik Indonesia di Bangkok, Thailand.

Sungguh besar jasa beliau terhadap pergerakan revolusi di Indonesia. Pandangannya tentang Indonesia bersatu dan sebagai tanah tumpah darah begitu kental mengalir di darahnya. Sayang nama beliau terlupakan oleh keadaan yang ada, padahal beliau adalah orang yang sangat vital bagi pergerakan revolusi Indonesia. Ajaran beliau yang masih relevan dilaksanakan sekarang adalah jangan pernah melakukan diplomasi dengan penjajah. kita harus merdeka seratus persen. merdeka dari kolonialisme dan imperialisme modern. Program-program Tan Malaka saat jaman kemerdekaan dulu saya rasa masih relevan untuk dijalankan dengan kondisi yang berbeda.Program-program itu adalah antara lain :
  1. Berunding atas pengakuan kemerdekaan 100%
  2. Melucuti tentara Jepang
  3. Menyita aset perkebunan milik belanda
  4. Menasionalisasi industri milik asing yang beroperasi di Indonesia

Sekarang adalah bagaimana sikap kita belajar dari Sejarah yang ada. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya serta belajar dari kesalahan masa lampau. Merdekakan diri kita dari belenggu kebodohan, kemiskinan serta imperialisme modern serta berusahalah menjadi bermanfaat demi keluarga, negara, bangsa dan juga Agama.

Indonesia Merdeka!!
Indonesia Bisa!!


Dirangkum dari berbagai sumber.


BANNER FREE MEMBER

19 comments:

Kunderemp said...

Yang jadi misteri saat itu adalah, kenapa Tan Malaka tiba-tiba beralih bergabung dengan Sabarudin di Kediri? Harry Poeze sebagai peneliti yang terobsesi Tan Malaka pun juga heran dan menyebutnya "kesalahan besar Tan Malaka". Padahal Sabarudin dikenal berperangai buruk.

Seandainya Tan Malaka tetap pergi ke Malang dan bergabung dengan pasukan yang disarankan oleh Jendral Soedirman, ia mungkin akan tetap selamat.

Karena Mayor Sabarudin bertindak keterlaluan, melampaui hukum-hukum perang, batalionnya dibubarkan oleh kolonel Soengkono yang memimpin divisi Jawa Timur. Jadi pasukan yang dibawa Sabarudin untuk membuat Tan Malaka terkesan, adalah pasukan liar. Padahal, semenjak Kabinet Hatta melakukan Re-Ra, sudah tak boleh ada pasukan selain TNI.

Kunderemp said...

Oh iya..
Tan Malaka itu marxis dan komunis tetapi bukan PKI. Dia memisahkan diri dari PKI, selain karena pemberontakan 1927, dia juga melihat Uni Sovyet tak lebih dari penjajah lain. Dia kecewa saat melihat sikap Lenin. (Kelak Mao Zedong juga kecewa dengan Uni Sovyet dan DN Aidit berusaha menyatukan perselisihan keduanya tetapi tak berhasil hingga tahun 1965).

Saat PRRI memberontak, salah tuntutan mereka adalah menolak komunis internasional. Mereka jelas tetap berkeinginan memasukkan Tan Malaka sebagai tokoh pujaan mereka.

Franova Herdiyanto said...

Mengenai bergabungnya Tan dengan Mayor Sabaruddin memang masih misteri sampai saat ini. Ada kemungkinan juga Tan Malaka sebenarnya dijadikan tawanan oleh Mayor Sabaruddin karena saat itu beredar kabar testamen politik yang dibuat bung karno telah tersebar di masyarakat luas. Hal ini mengakibatkan Mayor sabaruddin menginginkan jabatan jika kelak Tan Malaka menjadi Presiden republik Indonesia. Mayor Sabaruddin sendiri dikenal sebagai Psikopat karena menembak secara membabi buta tawanannya dan juga meminum darah mereka. Oleh karena itu dia dikeluarkan dari kesatuan..

tapi itu hanyalah pendapat saya..

Mengenai ajaran yang dipegang oleh Tan Malaka memang masih belum jelas. Dia penganut Marxis sama halnya dengan bung Hatta. tapi dia juga nasionalis dan juga memiliki banyak ilmu tentang komunisme.

Ya..saya juga sepakat dengan keputusan Tan MAlaka yang tidak mengamini pemberontakan PKI pada tahun 1926 dan 1927. Tan Malaka menganggap Komunis saat itu belum menjadi kesatuan yang utuh dari kebutuhan filsafat dunia tetapi hanya sebagian kecil saja. dan menurut dia Komunis harus berjalan selaras dengan PAN Islam saat itu agar bisa membasmi Kolonialisme dan Imperialisme.

Tan Malaka memang sosok yang melegenda dan juga membanggakan. sayang namanya cenderung buruk karena kampanye hitam terhadap dirinya selama ini.

mudah-mudahan namanya dapat menjadi bersinar kembali dan banyak Tan Malaka yang lain bisa muncul ke permukaan untukj melanjutkan revolusi Indonesia.

"Suara saya akan lebih keras dari dalam kubur daripada dari luar kubur,"kata Tan Malaka saat ingin ditangkap oleh Polisi Hongkong.

Indonesia Merdeka..

Kunderemp said...

Berbicara tentang ironi yang menimpa Tan Malaka, sama halnya berbicara tentang kebijakan Hatta.

Kalau Adam Malik mengatakan dwitunggal Sjahrir-Amir Sjarifudin, Soekarno-Hatta, maka sebenarnya dwitunggal2 tersebut rapuh. Hanya dwitunggal Tan Malaka-Soedirman yang benar-benar ada. Soekarno-Hatta hanyalah simbol sementara Sjahrir-Sjarifudin hanyalah karena kebetulan berada di kabinet dan dua2nya akhirnya menjadi perdana menteri yang sama-sama melakukan perjanjian.

Dwitunggal yang benar-benar sama secara ideologi adalah Hatta-Sjahrir, sehingga dulu, pra-Jepang, dikenal ungkapan "Di mana ada Hatta, di situ ada Sjahrir".

Di masa Jepang, mereka terpisah karena membagi tugas, Hatta bekerja sama dengan Jepang bersama Soekarno sementara Sjahrir bergerilya membangun jaringan radio agar saat proklamasi dikumandangkan, akan mudah tersebar ke seluruh Indonesia.

Ketika Kabinet Sjahrir menerima perjanjian Linggarjati, Hatta langsung menerima isi perjanjian tersebut. Sementara saat Kabinet Amir Sjarifuddin menerima perjanjian Renville, Hatta awalnya menolak hingga setelah Sjarifuddin menjelaskan jumlah amunisi, kapal, logistik, barulah Hatta menerima.

Tujuan Hatta menerima perjanjian damai saat itu adalah, memecah belah pihak sekutu. Ia berharap, sekutu-sekutu Belanda menolak membantu Belanda. Itu sebabnya, Hatta menolak alternatif dari Muso-Amir Sjarifuddin yang menggantungkan diri pada Uni Sovyet, karena hal itu akan hanya membuat Belanda mendapat angin dan bantuan dari sekutu2nya. Itu juga sebabnya, Hatta menolak alternatif dari Tan Malaka.

Di Indonesia, yang berpengaruh mungkin adalah Jendral Soedirman. Tetapi taktik Hatta terlihat di Eropa. Belanda yang baru mendapatkan kedaulatannya kembali setelah dijajah oleh Jerman, diboikot oleh negara-negara Eropa Lain. Amerika Serikat menahan bantuan Marshall Plan-nya untuk Belanda.

Agresi Militer Belanda II dilakukan karena Belanda panik, karena mereka butuh sumber daya.


Kenapa Serangan Umum 1 Maret 1949 berhasil? Padahal itu hanya serangan dalam satu kota, dan pasukan republik hanya berhasil menguasai kota selama 6 jam.

Jawabannya adalah,
karena dunia internasional sudah menunggu serangan tersebut.

Saat Belanda menyerbu Yogyakarta (Operatie Kraatie atau Agresi Militer Belanda II), sejumlah wakil dari PBB sedang di Kaliurang. Belanda sudah kalah secara politis dari sisi itu. Hanya saja, dunia internasional menunggu, layakkah Indonesia dibantu? Apakah setelah Belanda menguasai seluruh wilayah Indonesia, maka rakyat Indonesia menyerah ataukah mereka bagai api dalam sekam?

Serangan Umum 1 Maret, walau hanya merebut Yogya selama 6 jam tetapi menunjukkan bahwa TNI masih ada. Dan serangan tersebut rapi, serentak dilakukan, menunjukkan perencanaan matang, bukan sekedar ekspresi putus asa seperti bom bunuh diri Palestina. Serangan itu memang untuk menunjukkan pada dunia internasional, "We are still here!!".

Dua bulan kemudian, Belanda setuju untuk mengakui Pemerintahan Republik Indonesia, dan bersedia untuk melakukan perundingan damai lagi (KMB) namun kali ini bukan antar penjajah dan yang dijajah tetapi antar dua negara.

Itu adalah taktik Hatta dan Sjahrir dari awal. Soekarno bahkan tidak melihat seperti itu awalnya tetapi Soekarno percaya pada Hatta karena Hatta dan Sjahrir adalah yang paling paham kondisi internasional saat itu.

Itu juga yang menyebabkan Hatta berani melakukan Re-Ra untuk TNI, karena hanya ada boleh satu pasukan resmi di dalam satu negara. Hal tersebut akan meningkatkan kepercayaan negara lain bahwa Indonesia adalah satu negara, bukan sekumpulan Panglima Perang (warlords) fascis yang bersatu.

Itu juga sebabnya, saat jelas Muso dan Amir Sjarifuddin memiliki pasukan sendiri, Bung Hatta meminta Bung Karno untuk tegas mengatakan Musso sebagai pengkhianat karena Bung Hatta melihat pasukan Musso dan Amir Sjarifuddin sebagai ancaman yang memecah belah Indonesia.

Itu juga sebabnya, saat Sjahrir menjadi perdana menteri, Sjahrir harus memenjarakan Tan Malaka, karena Tan Malaka memiliki simpatisan-simpatisan yang mampu bertindak seperti pasukan sendiri walaupun secara de jure bukan pasukannya.

Sikap Hatta tersebut dipegang teguh bahkan saat dia sudah tidak menjabat. Saat PRRI memberontak, dia sudah melarang sebelum PRRI memproklamasikan tuntutannya. Setelah itu, Hatta tidak membela satupun yang terlibat PRRI, walaupun banyak kawan-kawannya yang tersangkut kasus PRRI.

Ingat juga, pencoretan sejumlah kata dari Piagam Jakarta juga dimediasi oleh Hatta, bukan Bung Karno. Bung Hatta tidak menggembor-gemborkan persatuan seperti Bung Karno, bahkan dalam beberapa tulisannya saat mahasiswa mengritik konsep persatuannya Bung Karno. Tetapi diam-diam, Bung Hatta memikirkan itu dari kebijakan yang dikeluarkannya.

Pengaruhnya terasa,
bahkan saat Bung Hatta telah ditangkap bersama Bung Karno, Sjahrir, dan Agus Salim, TNI masih memegang konsep tersebut. Itu sebabnya, saat Tan Malaka memilih pasukan liar Mayor Sabarudin, itulah saat kejatuhannya.

Tan Malaka bernasib malang karena ada Moh. Hatta saat itu.

kunderemp said...

Baru nyadar ada jawaban darimu, Fhre.. :P


Nah...
kalau Tan Malaka mau diungkap ke publik, sebaiknya keluarkan semua pendapat dan bukti-bukti mengapa Tan Malaka bergabung dengan Mayor Sabarudin. Apakah dia bergabung ataukah dia ditawan.

(lagi googling... :P )

Tapi, seperti yang kusebutkan di atas, kebijakan Tan Malaka berhalangan dengan taktiknya Bung Hatta. Walau bukan rahasia lagi kalau Bung Hatta sebenarnya kesal dengan Tan Malaka karena merasa dianggap anak ingusan oleh Tan Malaka.

Franova Herdiyanto said...

wah..dahsyat penjelasannya.. semuanya make sense..thanks nar..banyak ilmu yang didapat dari sini.

Iya setuju..Memang hubungan antara (Syahrir-Hatta)-Tan Malaka jarang sekali baik. Pdahal mereka berasal dari tanah yang sama yaitu Tanah Minang. Perbedaan ideologi adalah salah satu penyebabnya.

tetapi memang saat itu, posisi ideologi Tan Malaka tidak bagus.

Walaupun begitu..Tan Malaka adalah sosok yang paling penting saat itu. Sosok yang bisa menggagas sebuah Republik indonesia.

Thanks ilmunya nar..

~makin semangat cari tau sejarah Indonesia
~lagi baca buku biografinya Jendral Sudirman.

agung said...

assalamualaikum wr wb

Wah, seru nih.
Kalau benar Tan Malaka dan M. Hatta adalah marxis, maka marxis ketiga adalah Soekarno.

Soekarno pernah berkata (atau menulis ya??) bahwa sesungguhnya marhaenisme adalah marxisme. Dia menutupinya karena takut rakyat Bumiputra (kala itu) tak ada yg mau mengikutinya.

========================
Tentang pikiran Indonesia seluas ASEAN, saya juga pernah terpikir seperti itu. Tapi lingkupnya lebih kecil, yaitu seluas tanah rumpun Melayu. Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Pattani (Thailad Selatan), dan Moro (Filipinan Selatan). Hanya sebuah khayalan, karena saya belum berpikir secara detail.

Mungkin, nama bangsa(gabungan) tersebut bukan Indoensia, agar tidak ada yg iri hati. Mungkin, namanya Nusantara.

Hanya sebuah ide, setidaknya untuk saat ini.

suharjono said...

Coba memandang lebih ke atas (lebih global) lagi.

Sebagai bahan renungan. Dari sedikit cerita Narpati dan pemilik Blog ini di atas, dapat disimpulkan kalau perjuangan kita saat itu sangat terstruktur dan rapi.

Bayangkan gimana cara mereka mengkoordinasikan pergerakan2 agar sejalan dengan segala keterbatasan saat itu. Betapa rapinya organisasi mereka saat itu.

Gimana orang-orang cerdas saat itu membuat rencana/taktik, kemudian diimplementasikan sampai level bawah. Sepertinya tidak ada yang namanya berebut rebutan peran.

Sampai akhirnya kita akhirnya bisa mengecap madu yang bernama Kemerdekaan

Hebatnya lagi, mereka sudah memikirkan yang namanya dokumentasi, terbukti sampai kita yang hidup lebih dari setengah abad setelah perjuangan mereka, masih bisa mengetahui dan menelusuri sejarahnya. (Walaupun tidak semua...)

How smart they are.. Our ancestors.
How about us?

Franova Herdiyanto said...

@Agung: Wah..sepakat tuh gung..ane juga kayaknya pernah dengar tentang ajaran marhaenisme yang berlandaskan marxisme. Walaupun ajaran itu mungkin agak ekstrim, mungkin bapak2 bangsa itu tertarik karena di dalam ajaran itu terdapat point anti kolonialisme dan anti-imperialisme.

Nusantara yang seprti itu memang sebuah mimpi. Mimpi yang takkan pernah terwujud. Namun apa yang ada wajib kita syukuri. Kita harus bisa menjunjung tinggi rasa persaudaraan antara anggota ASEAN.

@Jono: Setuju juga. memang pergerakan kala itu sangat teratur. malah saking teraturnya di masa 50an kita diprediksi bisa menjadi macan asia oleh media Natinal Geographic saat itu.

Mudah-mudahan semangat kebangsaan masih ada dalam diri kita. dan semoga Indonesia akan semakin jaya. Amin

Ikhsan Putra Kurniawan said...
This comment has been removed by the author.
Franova Herdiyanto said...

@Ikhsan: Mudah-mudahan ikhsan menjadi salah satu pemuda sukses yang berasal dari bukittinggi. Amin..

Sumbernya ada di majalah Tempo san, tapi kalau mau di-google coba aja. mudah-mudahan ketemu.

Silahkan menulis dengan bahasa apapun asal masih bisa dimengerti oleh saya.

bijakfajar said...

numpang liwat mas...
masi inget sm saiah g???

http://bijakfajar.wordpress.com
http://friendster.com/bijakfajar

Franova Herdiyanto said...

wah..ada ketua HMIF IT Telkom..
Apa kabar mas bijak? Di sini alhamdulILLAH baik-baik saja.

Tentu saja saya akan ingat dengan mas bijak. Siapa yang akan cepat melupakan sambutan hangat dari teman-teman di IT Telkom pada saat Studi Banding kami kemarin?

sampai detik ini pun saya masih bisa merasakan keramahan dari teman-teman IT Telkom. Mudah-mudahan saya masih punya kesempatan untuk kembali berkunjung ke sana.

Btw, blognya bagus mas bijak..

andreas said...

silah tengok 32 artikel edisi khusus kemerdekaan Majalah Tempo dan 14 buku online tan malaka di

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/tan-malaka-bapak-republik-revolusi.html

semoga bermanfaat

salam hangat

Franova Herdiyanto said...

@ Andreas: Terima kasih mas atas petunjuknya. kebetulan artikel di majalah tempo sudah saya baca semua. dans eakrang sedang membaca Aksi MAssa. Bukan main bukunya, pantas saja menjadi pegangan bung Karno.

Best Regards

andreas said...

Buku Perang Gerilya Tan Malaka dan Che Guevara

sekali lagi, semoga bermanfaat..

Ketika memperingati sewindu hilangnya Tan Malaka pada 19 Februari 1957, Kepala Staf Angkatan Darat Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution mengatakan pikiran Tan dalam Kongres Persatuan Perjuangan dan pada buku Gerpolek (Gerilya Politik Ekonomi) menyuburkan ide perang rakyat semesta. Perang rakyat semesta ini, menurut Nasution, sukses ketika rakyat melawan dua kali agresi Belanda. Terlepas dari pandangan politik, ia berkata, Tan harus dicatat sebagai tokoh ilmu militer Indonesia.
(sumber Tempo)

Dalam bentuk tanya jawab Tan Malaka di dalam bukunya Gerpolek menjelaskan itu secara gamblang. Menurut Malaka GERPOLEK adalah perpaduan (Persatuan) dari suku pertama dari tiga perkataan, ialah Gerilya, Politik, dan Ekonomi. Lebih lanjut dalam bentuk tanya jawab Malaka menjelaskan sbb :

Apakah gunanya GERPOLEK?

GERPOLEK adalah senjata seorang Sang Gerillya buat membela PROKLAMASI 17 Agustus dan melaksanakan Kemerdekaan 100 % yang sekarang sudah merosot ke bawah 10 % itu!

Siapakah konon SANG GERILYA itu?

SANG GERILYA, adalah seorang Putera/Puteri, seorang Pemuda/Pemudi, seorang Murba/Murbi Indonesia, yang taat-setia kepada PROKLAMASI dan KEMERDEKAAN 100 % dengan menghancurkan SIAPA SAJA yang memusuhi Proklamasi serta kemerdekaan 100 %.
SANG GERILYA, tiadalah pula menghiraukan lamanya tempoh buat berjuang! Walaupun perjuangan akan membutuhkan seumur hidupnya, Sang Gerilya dengan tabah-berani, serta dengan tekad bergembira, melakukan kewajibannya. Yang dapat mengakhiri perjuangannya hanyalah tercapainya kemerdekaan 100 %.

SANG GERILYA, tiadalah pula akan berkecil hati karena bersenjatakan sederhana menghadapi musuh bersenjatakan serba lengkap. Dengan mengemudikan TAKTIK GERILYA, Politik dan Ekonomi, tegasnya dengan mempergunakan GERPOLEK, maka SANG GERILYA merasa HIDUP BERBAHAGIA, bertempur-terus-menerus, dengan hati yang tak dapat dipatahkan oleh musim, musuh ataupun maut.

Seperti Sang Anoman percaya, bahwa kodrat dan akalnya akan sanggup membinasakan Dasamuka, demikianlah pula SANG GERILYA percaya, bahwa GERPOLEK akan sanggup memperoleh kemenangan terakhir atas kapitalisme-imperialisme.

-------------

Selain berhubungan cukup erat dengan Panglima Sudirman pimpinan gerilyawan yang tangguh (bahkan Adam Malik menyebutnya Dwitunggal), sebenarnya Tan Malaka pernah terlibat langsung dalam medan perang gerilya menjelang kematiannya. Silahkan baca liputan Tempo Persinggahan Terakhir Lelaki dan bukunya serta Misteri Mayor Psikopat. Sehingga sebenarnya lengkaplah Tan Malaka yang berperang dengan kata, organisasi, juga 'perang senjata'. Atau bisa dikatakan Gerpolek bukan hanya teori baginya, tetapi juga sebuah praktek perjuangan yang dilakukannya.

Dalam konteks ini saya setuju dengan ketika Harry Poeze mempersandingkan Tan Malaka dan Che Guevara. Walau saya agak terganggu ketika Poeze mengatakan Tan Malaka adalah Che Guevara Asia. Bagi saya Tan Malaka adalah Tan Malaka, Che Guevara adalah Che Guevara.


Sekedar memperbandingkan buku perang Gerpolek dan Esensi Perang Gerilya yang dituliskan oleh Che Guevara, saya kutipkan bagian tulisan Che Guevara tersebut

"Perang Gerilya, sebagai inti perjuangan pembebasan rakyat, mempunyai bermacam-macam karakteristik, segi yang berbeda-beda, meskipun hakekatnya adalah masalah pembebasan. Sudah menjadi kelaziman--dan berbagai penulis tentang hal ini menyatkannya berulang-ulang---bahwa perang memiliki hukum ilmiah soal tahap-tahapnya yang pasti; siapapun yang menafikannya akan mengalami kekalahan. Perang gerilya sebagai sebuah fase dari perang tunduk dibawah hukum-hukum ini; tapi disamping itu, karena aspek khususnya, sudah menjadi hukum yang tak hukum yang tak terbantahkan dan harus diakui kalau mau mnedorongnya lebih maju. Meskipun kondisi sosial dan geografis masing-masing daerah (country) menentukan corak atau bentuk-bentuk khusus suatu perang gerilya, tapi ada hukum umum yang harus dipatuhi jenis tersebut.

Tugas kita kali ini adalah menggali dasar-dasar perjuangan dari jenis (corak) ini, aturan-aturan yang harus di ikuti oleh rakyat yang berupaya membebaskan diri, mengembangkan teori atas dasar fakta-fakta, menggeneralisasikan dan memberikan struktur atas pengalaman tersebut agar bermanfaat bagi rakyat lainya.

Pertama kali adalah menetapkan : siapakah pejuang dalam perang gerilya ? Disatu sisi ada kelompok penindas dan agen-agennya, tentara profesional (yang terlatih dan berdisiplin baik), yang dalam beberapa kasus dapat diperhitungkan atas dukungan luas dari kelompok-kelompok kecil dari birokrat, para abdi kelompok penindas tersebut. Disisi lain ada populasi bangsa atau kawasan yang terlibat. Adalah penting menekankan merupakan sebuah perjuangan massa, perjuangan rakyat. Gerilya, sebagai sebuah nukleus bersenjata, merupakan pelopor perjuangan rakyat, dan kekuatan terbesar mereka berakar dalam massa rakyat. Gerilya hendaknya tidak dipandang sebagai inferior secara jumlah dibanding tentara yang ia perangi, meskipun kekuatan persenjataannya mungkin inferior. Itulah sebabnya mengapa perang gerilya mulai bekerja ketika kau memiliki dukungan mayoritas, sekalipun memiliki sejumlah kecil persenjataan yang dengan itu kau mempertahankan diri melawan penindas.

Oleh karena itu pejuang gerilya mendasarkan diri sepenuhnya pada dukungan rakyat di suatu area. Ini mutlak sangat diperlukan. Dan di sini dapat dilihat secara jelas dengan mengambil contoh kelompok-kelompok bandit yang bekerja di suatu daerah. Mereka memiliki semua karakteristik dari sebuah tentara gerilya : Homogenitas, patuh pada pemimpin, pemberani, pengetahuan tentang lapangan dan seringkali bahkan memiliki pemahaman lengkap tentang taktik yang harus digunakan. Satu-satunya kekurangan mereka adalah tidak adanya dukungan dari rakyat, dan tidak terhindari lagi kelompok-kelompok bandit itu ditangkap atau dihancurkan oleh kekuatan pemerintah."

---------
Akhir kata silahkan membaca lebih jauh Gerpolek, Massa Aksi dan buku-buku Tan Malaka lainnya untuk mengerti lebih jauh perkakas perjuangan rakyat yang digagas dan dipraktekannya, juga silah tengok lebih lanjut buku-buku Che Guevara yang sudah cukup banyak beredar di pasaran atau silah kunjung tulisan Che Guevara Online

Salam Pembebasan

Andreas Iswinarto


untuk link tentang tan malaka dan che Guevara silah akses Buku Perang Tan Malaka dan Che.

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/buku-perang-tan-malaka-dan-che-guevara.html

atau

Untuk 34 artikel-opini (edisi khusus Tempo) dan 13 buku online Tan Malaka silah kunjung Tan Malaka : Bapak Republik Revolusi Merdeka 100 Persen
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/tan-malaka-bapak-republik-revolusi.html

Dalam bentuk tanya jawab Tan Malaka di dalam bukunya Gerpolek menjelaskan itu secara gamblang. Menurut Malaka GERPOLEK adalah perpaduan (Persatuan) dari suku pertama dari tiga perkataan, ialah Gerilya, Politik, dan Ekonomi. Lebih lanjut dalam bentuk tanya jawab Malaka menjelaskan sbb :

Apakah gunanya GERPOLEK?

GERPOLEK adalah senjata seorang Sang Gerillya buat membela PROKLAMASI 17 Agustus dan melaksanakan Kemerdekaan 100 % yang sekarang sudah merosot ke bawah 10 % itu!

Siapakah konon SANG GERILYA itu?

SANG GERILYA, adalah seorang Putera/Puteri, seorang Pemuda/Pemudi, seorang Murba/Murbi Indonesia, yang taat-setia kepada PROKLAMASI dan KEMERDEKAAN 100 % dengan menghancurkan SIAPA SAJA yang memusuhi Proklamasi serta kemerdekaan 100 %.
SANG GERILYA, tiadalah pula menghiraukan lamanya tempoh buat berjuang! Walaupun perjuangan akan membutuhkan seumur hidupnya, Sang Gerilya dengan tabah-berani, serta dengan tekad bergembira, melakukan kewajibannya. Yang dapat mengakhiri perjuangannya hanyalah tercapainya kemerdekaan 100 %.

SANG GERILYA, tiadalah pula akan berkecil hati karena bersenjatakan sederhana menghadapi musuh bersenjatakan serba lengkap. Dengan mengemudikan TAKTIK GERILYA, Politik dan Ekonomi, tegasnya dengan mempergunakan GERPOLEK, maka SANG GERILYA merasa HIDUP BERBAHAGIA, bertempur-terus-menerus, dengan hati yang tak dapat dipatahkan oleh musim, musuh ataupun maut.

Seperti Sang Anoman percaya, bahwa kodrat dan akalnya akan sanggup membinasakan Dasamuka, demikianlah pula SANG GERILYA percaya, bahwa GERPOLEK akan sanggup memperoleh kemenangan terakhir atas kapitalisme-imperialisme.

-------------

Selain berhubungan cukup erat dengan Panglima Sudirman pimpinan gerilyawan yang tangguh (bahkan Adam Malik menyebutnya Dwitunggal), sebenarnya Tan Malaka pernah terlibat langsung dalam medan perang gerilya menjelang kematiannya. Silahkan baca liputan Tempo Persinggahan Terakhir Lelaki dan bukunya serta Misteri Mayor Psikopat. Sehingga sebenarnya lengkaplah Tan Malaka yang berperang dengan kata, organisasi, juga 'perang senjata'. Atau bisa dikatakan Gerpolek bukan hanya teori baginya, tetapi juga sebuah praktek perjuangan yang dilakukannya.

Dalam konteks ini saya setuju dengan ketika Harry Poeze mempersandingkan Tan Malaka dan Che Guevara. Walau saya agak terganggu ketika Poeze mengatakan Tan Malaka adalah Che Guevara Asia. Bagi saya Tan Malaka adalah Tan Malaka, Che Guevara adalah Che Guevara.


Sekedar memperbandingkan buku perang Gerpolek dan Esensi Perang Gerilya yang dituliskan oleh Che Guevara, saya kutipkan bagian tulisan Che Guevara tersebut

"Perang Gerilya, sebagai inti perjuangan pembebasan rakyat, mempunyai bermacam-macam karakteristik, segi yang berbeda-beda, meskipun hakekatnya adalah masalah pembebasan. Sudah menjadi kelaziman--dan berbagai penulis tentang hal ini menyatkannya berulang-ulang---bahwa perang memiliki hukum ilmiah soal tahap-tahapnya yang pasti; siapapun yang menafikannya akan mengalami kekalahan. Perang gerilya sebagai sebuah fase dari perang tunduk dibawah hukum-hukum ini; tapi disamping itu, karena aspek khususnya, sudah menjadi hukum yang tak hukum yang tak terbantahkan dan harus diakui kalau mau mnedorongnya lebih maju. Meskipun kondisi sosial dan geografis masing-masing daerah (country) menentukan corak atau bentuk-bentuk khusus suatu perang gerilya, tapi ada hukum umum yang harus dipatuhi jenis tersebut.

Tugas kita kali ini adalah menggali dasar-dasar perjuangan dari jenis (corak) ini, aturan-aturan yang harus di ikuti oleh rakyat yang berupaya membebaskan diri, mengembangkan teori atas dasar fakta-fakta, menggeneralisasikan dan memberikan struktur atas pengalaman tersebut agar bermanfaat bagi rakyat lainya.

Pertama kali adalah menetapkan : siapakah pejuang dalam perang gerilya ? Disatu sisi ada kelompok penindas dan agen-agennya, tentara profesional (yang terlatih dan berdisiplin baik), yang dalam beberapa kasus dapat diperhitungkan atas dukungan luas dari kelompok-kelompok kecil dari birokrat, para abdi kelompok penindas tersebut. Disisi lain ada populasi bangsa atau kawasan yang terlibat. Adalah penting menekankan merupakan sebuah perjuangan massa, perjuangan rakyat. Gerilya, sebagai sebuah nukleus bersenjata, merupakan pelopor perjuangan rakyat, dan kekuatan terbesar mereka berakar dalam massa rakyat. Gerilya hendaknya tidak dipandang sebagai inferior secara jumlah dibanding tentara yang ia perangi, meskipun kekuatan persenjataannya mungkin inferior. Itulah sebabnya mengapa perang gerilya mulai bekerja ketika kau memiliki dukungan mayoritas, sekalipun memiliki sejumlah kecil persenjataan yang dengan itu kau mempertahankan diri melawan penindas.

Oleh karena itu pejuang gerilya mendasarkan diri sepenuhnya pada dukungan rakyat di suatu area. Ini mutlak sangat diperlukan. Dan di sini dapat dilihat secara jelas dengan mengambil contoh kelompok-kelompok bandit yang bekerja di suatu daerah. Mereka memiliki semua karakteristik dari sebuah tentara gerilya : Homogenitas, patuh pada pemimpin, pemberani, pengetahuan tentang lapangan dan seringkali bahkan memiliki pemahaman lengkap tentang taktik yang harus digunakan. Satu-satunya kekurangan mereka adalah tidak adanya dukungan dari rakyat, dan tidak terhindari lagi kelompok-kelompok bandit itu ditangkap atau dihancurkan oleh kekuatan pemerintah."

---------
Akhir kata silahkan membaca lebih jauh Gerpolek, Massa Aksi dan buku-buku Tan Malaka lainnya untuk mengerti lebih jauh perkakas perjuangan rakyat yang digagas dan dipraktekannya, juga silah tengok lebih lanjut buku-buku Che Guevara yang sudah cukup banyak beredar di pasaran atau silah kunjung tulisan Che Guevara Online

Salam Pembebasan

Andreas Iswinarto


untuk link tentang tan malaka dan che Guevara silah akses Buku Perang Tan Malaka dan Che.

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/buku-perang-tan-malaka-dan-che-guevara.html

Ichsan said...

seru...seru, numpang lewat smile, gw link yaa..

Franova Herdiyanto said...

iya san...nanti ditaut balik..sering2 berkunjung ye... :P

Adhamaski Pangeran said...

boleh tau ngk ya di rangkum dari buku apa? tolong dikirim ke email sata adam_hemat@yahoo.com thx ^^